Kliping

Kapal Layar Katir Nusantara II Siap Menuju Sabang

poskota.co.id, Senin, 27 Juni 2011 – Ekspedisi Kapal Layar Katir Nusantara II yang akan berlayar dari Sabang sampai Merauke, saat ini tengah berada di Uleelheue, Banda Aceh, Senin (27/6). Kapal layar Katir baru akan melanjutkan perjalanan ke Sabang pada keesokan harinya karena cuaca yang kurang mendukung.

Menurut Kapten Kapal Effendi Soleman, Kapal Katir Nusantara II baru akan melanjutkan perjalanan esok hari dikarenakan cuaca yang ekstrem sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan hari ini. “Sekitar pukul 05.00 pagi kita akan bertolak ke Sabang, sembari menunggu cuaca normal kembali karena hari ini tidak mungkin untuk meneruskan perjalanan” ujar Effendi Soleman.

Pelayaranini diberi nama Ekspedisi Layar Sabang-Merauke Katir Nusantara 2011. Ekspedisi ini akan melakukan petualangan bahari dengan rute pelayaran dari Sabang sampai Merauke dan akan menyinggahi sekitar 30 kota di hampir seluruh provinsi. Petualangan ini juga melibatkan mahasiswa pecinta alam (Mapala), siswa Pramuka dan juga wartawan.

Ekspedisi Layar Sabang-Merauke 2011mulaisecara resmi dilepas pada hari Minggu, 29 Mei 2011di Gelanggang Olahraga Air ‘Bahtera Jaya’ Ancol.Turut memberikan sambutan dalam upacara pelepasan itu adalah Ketua Panitia Kegiatan, Ruby Suhaeri; Laksamana Pertama TNI KingkinSuroso,SE dan wakil dari Kotamadya Tangerang Selatan.

Petualangan bahari ini dilakukan dengan menggunakan kapal perahu yang dibantu dua mesin pendorong masing-masing bertenaga 15 PK. Katir Nusantara II memiliki panjang 8,5 meter, lebar 6 meter, dan tiang layar 10 meter. Apabila Katir Nusantara II dapat tiba di Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Sabang tepat waktu dan sesuai jadwal yang telah direncanakan, maka akan dilaksanakan penyambutan dan pelepasan oleh Kepala Dinas Pembinaan Potensi Maritim Angkatan laut (Kadispotmar) Laksamana Pertama TNI Kingkin Suroso,SE di Lanal Sabang.

(dispenal/sir)

Kapal Layar Katir Nusantara II Kunjungi Lantamal-I Belawan

analisa.co.id, Kapal layar Katir Nusantara 2 Ekspedisi Sabang-Merauke melakukan lawatan selama dua hari di Belawan. Kunjungan lima awak kapal di Dermaga Mako Lantamal-I Belawan tersebut merupakan bagian pembentukan kader bahari Indonesia.

Dalam kunjungan, para awak kapal Effendi Soleman (nakhoda) bersama Haberta Adi Pratama, Ases Robetya dan Arif Rahman Hakim, Jumat kemarin disambut Wadanlantamal-I Belawan Kolonel Laut (Mar) Suprayogi, Asops Kolonel Laut (P) Satriya, Asper Kolonel Laut (P) Budi Jatmiko, Asintel Kolonel Laut (P) Agus Irianto dan Kadispotmar Letkol Laut (S) Ferdinand Tampubolon SE.

Dihadapan para petinggi Lantamal-I, Nakhoda Katir Nusantara II Efendi Soleman mengatakan, tujuan ekspedisi Katir Nusantara II ini adalah untuk meningkatkan kecintaan dan semangat di dunia bahari pada generasi muda. Dalam ekspedisi ini pihaknya melibatkan lima kru kapal, dua dari Mapala Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan dua anggota pramuka Saka Bahari.

“Kami menargetkan ekspedisi yang dimulai pada 29 Mei 2011 dari Jakarta – Sabang – Marauke dan kembali ke Jakarta berlangsung selama tiga bulan ,”jelas Suleman seraya menyebutkan kegiatan atas keinginan mereka sendiri.

Peninggalan

Setiap persinggahan pelabuhan, sambung Efendi ada pergantian awak kapal. Guna mengajak para pecinta bahari untuk ikut berlayar di dunia bahari terutama di kalangan usia muda. Karena hal ini merupakan bagian pembinaan potensi maritim sekaligus mengenal batas-batas wilayah NKRI.

Bercerita tentang pengalaman selama berlayar satu bulan terakhir ini, para awak mengaku harus disiplin waktu dan fasilitas termasuk penggunaan air tawar hanya untuk pentingan air minum dan masak. Sedangkan waktu lego jangkar pukul 21.00 WIB mereka manfaatkan untuk tidur bergantian mengingat kapasitas kapal ini hanya terbatas 2 oraang.

“Selama pelayaran ini, mereka sempat merasakan gelombang setinggi tiga meter dan kemudi patah di perairan kawasan Palembang,”tutur Arif salah seorang awak yang berencana akan mengikuti ujian kuliah.

Pada kesempatan itu Wadanlantamal I Kolonel Laut (Mar) Suprayogi mengharapkan, dengan kunjungan ini menjadi semangat bela tanah air khususnya yang berjiwa bahari untuk lebih mengenal daerah serta pertahanan Angkatan Laut.

“Tentunya Katir Nusantara II ini akan dimanfaatkan dengan kegiatan kemaritiman dengan melibatkan pemuda, instansi terkait, masyarakat masritim setempat diantaranya kegiatan bersih pantai,”tambah Kadispotmar Lantamal- I Letkol Laut (S) Ferdinand Tampubolon SE.

Selama dua hari di Belawan, para awak kapal Katir Nusantara II tersebut mendapatkan fasilitas mess penginapan. Sedangkan pada Minggu (19/6) pagi ekspedisi dari Sabang hingga ke Marauke dilepas Kadispotmar Lantamal- I Letkol Laut (S) Ferdinand Tampubolon SE. Kepada para awak Kadispotmar juga menyerahkan bantuan Lantamal berupa bekal dalam perjalanan.

Pangarmabar Melepas Ekspedisi Tunggal “Cadik Nusantara II”, Kebangkitan Maritim Sangat Diperlukan

Ekspedisi tunggal “Cadik Nusantara II” yang dilakukan oleh Effendy Soleman, 52; mengandung makna strategis bagi pembangunan bangsa di masa datang, yaitu menumbuhkan visi maritim bangsa yang sudah ratusan tahun terkristal dalam visi kontinental. Sebagai bangsa kepulauan yang 2/3 wilayahnya terdiri dari laut, kebangkitan maritim sangat diperlukan.

Hal itu dikatakan Panglima Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Mualimin Santoso MZ, saat melepas pelayaran ekspedisi tunggal “Cadik Nusantara II” di FIS, Water Sport Club, Marina Ancol, Jakarta Utara, Jum’at (17/10).

Menurut Pangarmabar, pengelolaan dan pemanfaatan wilayah laut berikut potensi sumber daya yang ada di dalamnya memerlukan SDM yang peduli dan profesional di bidang kelautan serta harus ditopang dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan yang seimbang dan profesional.

Pelayaran tunggal yang dilakukan Effendy Soleman ini adalah dalam rangka menyambut Hari Nusantara. Pelayaran akan berlangsung selama 42 hari dengan rute Jakarta-Tanjungpandan-Toboali-Muntok-Sungai Pakning-Bengkalis-Dumai dan diharapkan kembali dan bergabung di acara puncak Hari Nusantara di Anyer, Banten pada 13 Desember 2003.

“Cadik Nusantara II” membawa perlengkapan meliputi kompas, peta, GPS, HP satelit dan HP marine band.

Tujuan pokok dari pelayaran ini adalah mengenalkan wisata bahari, mengembangkan kreativitas, keberanian dan kepeloporan kepada pemuda khususnya di bidang kebaharian, untuk mempererat antarpulau, memotivasi kepada pemuda untuk lebih mencintai laut Indonesia serta membangkitkan cinta bahari kepada pemuda di masa datang.


Pelayaran tunggal ketiga

Menjawab Pelita, Effendy Soleman yang pernah menjadi wartawan di salah satu media massa di Jakarta itu mengatakan pelayaran yang dilakukan ini merupakan ketiga kalinya. Yang pertama dan kedua dia menggunakan “Cadik Nusantara I.” “Kapal itu sudah masuk museum,” kata lelaki bujangan itu.

Dia melakukan pelayaran tunggal pertama tahun 1988 Jakarta-Brunei Darussalam yang ditempuh selama 100 hari pergi-pulang, dan kedua tahun 1996 Jakarta-Pineng, Malaysia yang ditempuh sekitar dua bulan pergi-pulang.

Sebenarnya Effendy Soleman ingin mewujudkan cita-citanya berlayar Sabang-Merauke, tapi terbentur dana yang diperlukan sekitar Rp150 juta.

Kini, dengan perahu yang dibangun dengan dana sekitar Rp70 juta, berukuran panjang 7,2 m, lebar seluruhnya 3,6 m, dan perahu utama lebar 80 cm, dia harus menembus ganasnya gelombang untuk menuju Dumai. “Saya menggunakan mesin saat berangkat ini, dan menggunakan layar saat kembali nanti,” katanya seraya menunjuk mesin 15 PK yang menempel di buritan perahu. Sedangkan di anjungan berkibar bendera Merah Putih.

Dengan mengepalkan tangan yang diangkat ke atas dan dilanjutkan dengan lambaian tangan, wartawan yang pelaut itu meninggalkan pantai Marina, Ancol mengawali pelayaran ekspedisinya. Sebuah Sea Raider Kopaska Koarmabar ikut melepas keberangkatan itu.(be)

*******

Mengantar Fendy Menjelajah

BELUM ada kata pensiun untuk Effendy Soleman (54). Fendy dikenal sebagai penjelajah laut. Beberapa hari ke depan Fendy akan memulai lagi petualangannya.

Fendy, panggilan Effendy, pada Minggu (4/12), akan bertolak melayari perairan Nusantara, menempuh jarak Jakarta-Sabang-Merauke. Ia menggunakan perahu jenis katir. Petualangannya kali ini, Ekspedisi Katir Nusantara, diperkirakan memakan waktu lima bulan.

Fendy bukan orang asing di dunia penjelajahan. Fendy sudah meramaikan dunia kegiatan di alam terbuka sejak 1970-an.


Cadik Nusantara

Effendy Soleman identik dengan Cadik Nusantara, setelah ia berhasil merampungkan pelayaran solo dengan perahu cadik menempuh jarak Jakarta – Brunei Darussalam pergi-pulang pada 1988. Sejak itu ia lebih dikenal sebagai penjelajah laut.

Fendy mulai mengembangkan hobinya bergiat di alam terbuka ketika bergabung dengan Kelompok Pencinta Alam Garata Jaya pada 1970. Pada era itu, penjelajahan di alam yang sedang digandrungi ialah pendakian gunung. Ia pun mendaki gunung hingga ke luar Jawa.

Pada 1975, ia mulai mengembangkan minatnya menjelajahi sungai-sungai di Indonesia. Paling mengesankannya adalah saat menjelajah Sungai Mahakam hingga ke hulu.

Bergabung dengan Tabloid Mutiara sebagai wartawan, kegemarannya menjelajah semakin tersalurkan. Ia acap turun tangan meliput daerah-daerah terpencil, seperti suku Kubu, suku Sasak, suku Sakai, suku Mapur, suku Kajang, selain suku Tengger dan suku Baduy.

Di Mutiara pula ia mulai sering menelusuri gua-gua di Jawa dan Sumatera. Ia tercatat pernah menjadi Ketua Specavina, kelompok penelusuran gua pertama di Indonesia, pada 1981. Salah satu kegiatan penelusuran gua paling monumental ialah ekspedisi Luweng Ombo di Jawa Timur pada tahun yang sama.

Darah Bugis dari ibu dan Ternate dari ayah mengantarnya mengembangkan kegemaran menjelajah laut. Pada 1981 ia mengikuti pelayaran perahu phinisi dari Jakarta ke Banjarmasin. Pengalaman itu memberinya perspektif baru. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan pelaut Jepang, berlayar dengan perahu bercadik ganda hingga ke Padang.

Sejak itu, Fendy menekuni olahraga laut itu. Ia mewujudkan obsesinya dengan berlayar seorang diri dari Jakarta ke Pulau Bangka pada 1987, dengan perahu bercadik tunggal. Pada tahun yang sama itu, ia melengkapi penjelajahannya, bukan hanya gunung, sungai, gua, dan laut. Ia berhasil mendapatkan wing terjun payung dari TNI-AU setelah mengikuti Sekolah Para Dasar Angkatan ke-104 di Lanud Sulaiman, Margahayu, Bandung.

Setahun kemudian, ia berlayar seorang diri menggunakan perahu layar bercadik tunggal dari Jakarta ke Brunei Darussalam pergi-pulang, dalam Ekspedisi Cadik Nusantara. Masih pada tahun yang sama, pada akhir tahun, ia menjadi sail master pada kapal Maruta Jaya milik PT PAL Surabaya, dalam pelayaran uji coba.

Pada Mei 1989, Fendy menggelar Ekspedisi Wanita Cadik Nusantara, menempuh perjalanan Jakarta-Bangka pergi-pulang. Masih pada tahun yang sama, bulan September, ia mengikuti lomba layar internasional Darwin – Ambon Race.

Pelayaran tunggal kembali ia gelar pada 1996, menempuh jarak Jakarta-Penang, Malaysia, pergi-pulang. Pelayaran tunggal terakhir ia laksanakan pada 2003, dengan bendera Ekspedisi Satu Indonesiaku, menempuh jarak Jakarta-Tanjung Pandan (Belitung)-Muntok (Bangka).

Penjelajahannya kali ini didukung seratus persen oleh PT Carita Boat Indonesia, tempat selama ini ia bekerja.

(Sumber: Suara Pembaruan, 1-12-2005)

———

Effendy Soleman, Jadi Magnet bagi Pencinta Bahari

republika.co.id, Rabu, 23 Maret 2011

Bagaimana awal cerita sampai Anda tertarik bergelut dalam petualangan bahari?
Sebelumnya, saya pernah mencoba beberapa olahraga yang memang menantang. Saya pernah naik gunung, arung jeram, panjat tebing, terjun payung. Lalu, berpetualang di lautan dengan perahu itu, berlayar sendiri mulai tahun 1987. Saya ke Bangka dengan kapal tradisional Cadik dari Pelabuhan Ratu. Tahun 1988, ekspedisi ke Brunei-Jakarta, 1989 dengan kapal yang sama ekspedisi ke nusantara, Masalembo, sampai ke Malaysia, ada beberapa kali dengan tim, tapi lebih banyak sendirian.

Lalu, tahun 1998, terjadi PHK besar-besaran pada majalah Mutiara tempat saya bekerja. Dalam keadaan kesulitan keuangan, saya kasihan melihat kapal yang sudah berjasa dan punya banyak sejarah bagi saya. Beberapa penghargaan saya dapatkan bersama kapal ini, di antaranya pelayar lepas pantai tunggal pertama Indonesia.

Perjalanan paling berkesan saat melakukan petualangan di laut?
Pertama kali saat berlayar sendiri ke Pulau Bangka. Saya naik perahu kecil, lebarnya hanya 60 sentimeter, panjang 6 meter. Saya gotong perahu itu dari Pelabuhan Ratu, sampai ke Muara Dadap. Itu petualangan pertama ke laut sendirian. Saat itu pengetahuan laut saya masih nol, tapi saya nekat.

Sehari di lautan, terjadi hujan badai. Waktu itu bulan Desember. Dari pagi sampai malam saya jalan kena badai, kapal saya beberapa kali hampir tenggelam. Saya tertawa, menangis, panik. Perahu saya sangat kecil, tidak ada palka, tidak ada ada pelindung, tidak bisa masak, makan seadanya. Saya sampai sempat berucap, Ya Tuhan kalau mau matiin saya sekarang aja. Itu karena rasanya saya sudah tidak sanggup.

Apa yang Anda rasakan dengan berpetualang di lautan?
Di sinilah seninya. Berpetualang di laut lebih memacu adrenalin. Kalau naik gunung, cuaca jelek kita bisa pasang tenda, ada badai masuk tenda saja nunggu sampai reda. Tapi, kan tetap aman. Terjun payung, stresnya tidak lama. Kalau payungnya tidak terbuka kan paling langsung mati. Tidak ada teriak-teriak.

Kalau di laut prosesnya lama, ibaratnya proses kita menuju kematian itu kelihatan dalam gulungan gelombang dan sambaran badai. Kalau badai di tengah laut, awan seakan-akan ingin menerkam kita. Maka itu, kalau beberapa tahun tidak berlayar, rasanya ada gejolak yang meledak-ledak untuk bisa ke laut lagi.

Bentuk petualangan saya, saya ingin menciptakan saingan. Biasanya orang makin tak ada yang bisa ngalahin dia, makin bangga. Tapi bagi saya, makin banyak yang bisa mengikuti, makin banyak regenerasi, saya makin bangga. Moto hidup saya, jadilah magnit di lingkunganmu. Jangan ada persaingan. andi nur aminah

——-

Ribuan Mil Bersama Katir

Oleh Andi Nur Aminah

Tantangan terbesar yang memicu adrenalin ditemukan dengan berlayar di lautan lepas.

Selama delapan hari, tak bertemu dengan satu orang pun. Berjarak ribuan mil dari daratan, dengan kondisi tak menentu. Berteman deru angin, riak gelombang, laut biru, serta langit yang terkadang berubah menjadi hitam pekat.

Pernah membayangkannya? Begitulah yang dialami Effendy Soleman, seorang petualang bahari yang sudah melanglang buana ke berbagai wilayah di nusantara hingga ke negeri jiran. Saat melakukan ekspedisi Jakarta-Brunei Darussalam, Effendy menjalaninya selama 50 hari, termasuk di darat. Delapan hari di antaranya, merupakan waktu terlamanya di lautan tanpa bertemu satu orang pun.

Delapan hari tanpa interaksi dengan manusia itu dijalaninya sejak dari Tanjung Datu di perbatasan Kalimantan Barat hingga ke Brunei. Menurut Effendy, itulah perjalanan terlamanya di lautan tanpa berinteraksi dengan manusia. “Mungkin hanya ada  beberapa orang di Indonesia yang pernah mengalami itu. Jalan malam sendirian, cuma bawa kompas dan peta. Tidak ada peralatan komunikasi,” ujarnya. Lelaki berbadan jangkung dan berkulit legam ini melintasi samudera, baik dengan pelayaran tunggalnya mau pun secara berkelompok. Kepuasan tersendiri melalui uji nyali yang memacu adrenalin ditemukannya dengan mengarungi laut lepas.

Sebelumnya, ia memang hobi melakukan hal-hal menantang, seperti arung jeram, panjat tebing, naik gunung, ataupun terjun payung. Namun, tantangan terbesar ditemukannya di laut. Ekspedisi tunggal pertama kali dilakukan dengan rute Jakarta-Bangka pada 1987. Ia memulai perjalanannya dari Pelabuhan Ratu. Di hari pertama, ia sempat gagal mencapai Bangka karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Tapi, dengan sedikit nekat, ia melan- jutkan ekspedisinya dua hari kemudian setelah mengembalikan rasa percaya dirinya di salah satu gugusan Pulau Seribu.

Perjalanan ke Bangka selama dua hari akhirnya berhasil ditempuh Effendy dengan menggunakan perahu kecil yang panjangnya hanya enam meter. Tahun-tahun berikutnya, rutenya makin jauh hingga ke negeri jiran, Brunei Darussalam dan Malaysia. Jarak ribuan mil itu tak selamanya ditempuh sendirian. Beberapa kali ekspedisi yang dilakukannya juga menyertakan orang lain, salah satunya kelompok pencinta alam Trisakti. “Saya mengajak mereka karena tidak ingin hebat sendiri. Saya ingin menciptakan pesaing untuk saya,” ujarnya.

Menurutnya, jika ia berjalan sendiri saja, prestasinya akan makin tinggi, sendirian. Padahal, yang diinginkannya adalah menciptakan generasi-generasi yang memiliki semangat kebaharian sebagai bangsa dengan wilayah maritim cukup luas. “Kalau saya sudah ber- hasil menjangkau Jakarta-Brunei, orang lain mau menyaingi saya, nanti akan susah. Maka itu, lebih baik saya ajak dan saya kembangkan sendiri,” kata Effendy.

Memang, pelayaran tunggalnya dengan perahu cadik ke wilayah luar Indonesia dilakukannya sendiri. Ekspedisi secara berkelompok hanya dilakukannya saat berkeliling nusantara. Kini, perahu cadik yang berjasa membawa Effendy berkelana itu telah mengakhiri perjalanannya di Museum Bahari Indonesia.

Ia memutuskan memuseumkan perahunya seiring dengan aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran pada 1998, termasuk di tempat ia bekerja sebagai wartawan, di Tabloid Mutiara. “Merawat perahu tak semudah merawat mobil,” ujarnya. Setelah memuseumkan perahu cadiknya, Effendy menghabiskan waktunya dengan menjadi karyawan di sebuah perusahaan produsen perahu, PT Carita Boat.

Regenerasi
Tak pelit berbagi ilmu. Begitulah Effendy. Menjelang usianya yang ke-60 tahun pada 23 April mendatang, lelaki yang masih keturunan panglima kesultanan Ternate dan ibu dari Bugis Makassar ini akan melaksanakan ekspedisi terbarunya, Ekspedisi Bahari Nusantara 2011.

Ekspedisi tersebut akan menempuh jarak lebih dari 6.700 mil dengan rute Jakarta-Sabang-Merauke-Jakarta. Perjalanan direncanakan memakan waktu tiga bulan, dan akan singgah di 26 kota serta 19 provinsi.

Bertepatan dengan usianya yang ke-60 tahun itu, Effendy akan memulai perjalanannya lagi. Dan, tanpa disadarinya, tanggal 23 April itu ternyata bertepatan dengan Hari Saraswati, yang bagi kepercayaan orang Bali dikenal sebagai hari saat diturunkannya ilmu pengetahuan. “Entah kebetulan atau tidak, waktu melihat kalender Bali, ternyata tanggal 23 itu bertepatan dengan Hari Saraswati, yang bagi orang Bali diperingati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan,” ujar Effendy.

Kali ini, ia mengajak empat orang lagi yang terdiri atas anggota pramuka saka bahari, kelompok pencinta alam, anggota Angkatan Laut, dan wartawan. Keempat orang tersebut, akan berganti personel di setiap daerah yang disinggahinya. Menurut Effendy, penyeleksian orang-orang yang akan menyertainya dari berbagai daerah itu sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Persyaratannya umum saja, berbadan sehat dengan usia tak lebih dari 30 tahun, dan tentu saja pandai berenang.

“Usia saya sudah tak muda lagi, saya ingin menyiapkan kader dan Effendy Soleman Effendy Soleman lain,” kata dia. Satu kebanggaan Effendy adalah ketika banyak orang yang bertanya dan memintanya berbagi pengalaman tentang kelautan dan perkapalan. Ia memang bukan ahli dalam membuat dan mendesain kapal dengan hitungan-hitungan yang njelimet. Namun, pengalaman berkawan dengan ombak serta ganasnya perairan luas menempanya menjadi seorang yang sangat hapal bagian-bagian kapal, serta bernyali seolah memiliki cadangan nyawa.

Perjalanan keliling nusantara berikutnya itu, akan dilakukannya dengan sebuah perahu bernama Katir Nusantara 2. Perahu yang dibikin oleh seorang tukang perahu di Cilebut, Bogor, itu dirancangnya sendiri. Gulungan ombak dan pekatnya awan saat badai datang, berkali-kali sudah ditemuinya. Namun, Effendy selalu meyakini, setelah badai sirna, matahari akan selalu terbit lebih cerah dan menimbulkan semangat yang membara. Berbagai cara memang bisa dilakukan untuk menunjukkan kecintaan pada Tanah Air. Dan bagi Effendy: Tanah adalah rumah dan Air adalah halamannya. Berbagi pengalaman dan rasa, mem bangun jiwa bahari untuk generasi muda, itulah yang ingin dilakukannya.

——-

Navigasi danTeknologi Pembuatan Perahu Nusantara

Di masa lampau, kapal berlayar tidak terlalu jauh dari benua atau daratan. Namun, jauh atau dekat, petunjuk arah sangatlah penting. Orang-orang zaman dahulu, menggunakan bintang sebagai alat bantu navigasi. Terus berkembangnya ilmu pengetahuan, awak kapal lalu menggunakan kompas sebagai alat bantu penunjuk arah yang hingga kini masih banyak digunakan.

Penemuan jam pasir oleh orang-orang Arab pun ikut membantu navigasi. Ditambah lagi penemuan jam oleh John Harrison pada abad ke-17, lalu telegraf oleh SFB Morse dan radio oleh Marconi kian melengkapi alat-alat navigasi kapal. Setelah munculnya radar dan sistem sonar pada abad ke-20, membuat peranan navigator agak tergeser.

Menjelang akhir abad ke-20, navigasi sangat dipermudah oleh munculnya Global Positioning System (GPS). Alat ini memiliki ketelitian sangat tinggi dengan bantuan satelit. Sistem komunikasi yang sangat modern dan menunjang navigasi, terus muncul dengan adanya beberapa macam peralatan, seperti radar tipe harpa. Radar jenis ini memungkinkan para navigator atau mualim bisa melihat langsung keadaan dan kondisi laut. Radar harpa adalah radar modern yang bisa mendeteksi langsung jarak antara kapal dan kapal, kapal dan daratan, kapal dan daerah berbahaya, kecepatan kapal, kecepatan angin, serta mempunyai daya akurasi gambar yang jelas.

Di bidang teknik pembuatan kapal atau perahu, informasi dan data arkeologi maritim secara garis besar menyebutkan, pembuatan perahu nusantara menggunakan beberapa teknik. Yakni teknik ikat, teknik gabungan ikan dan pasak, teknik pasak, serta teknik lain. Teknik ikat murni memang belum dijumpai bukti arkeologisnya. Hasil penelitian terbatas menyebutkan, pemanfaatan teknik ikat bercampur dengan pemanfaatan pasak, namun teknik ikatnya tetap mendominasi pembentukan badan perahu.

Bangkai perahu di situs Kuala Pontian adalah contohnya. Beberapa catatan etnografis tentang teknik ikat ini masih terlihat pada perahu penangkap ikan paus di Pulau Lembata (Lomblen), Nusa Tenggara Timur. Begitu pula, perahu yang dipakai masyarakat di Pulau Hainan, Vietnam, dan Filipina.

Sedangkan teknik gabungan ikat dan pasak, diperoleh dari beberapa situs bangkai perahu di Sumatra Selatan. Teknik ini memperlihatkan, teknik ikat makin bergeser perannya oleh kehadiran pasak kayu. Ini tercermin dengan semakin dekatnya jarak di antara lubang untuk memasukkan pasak kayu tersebut pada tepian papan-papannya.

Artinya, pasak kayu tak lagi berfungsi hanya sebagai sarana memperkokoh sambungan, tetapi justru merupakan bagian yang dominan dalam teknik pembangunan perahu tersebut. Secara kronologis, inilah tipe perahu di abad ke-5 hingga abad ke-8. Teknik pasak bisa ditemukan pada perahu jung. Pemanfaatan teknik pasak ini terus berlanjut hingga saat ini, bahkan kini masih dipergunakan untuk pembuatan perahu jenis phinisi di Sulawesi Selatan dan perahu lete di Madura.

Teknik lainnya, yakni teknik jahit dan teknik paku. Keduanya sampai saat ini masih dapat dijumpai di sekitar Samudera Hindia dan Cina. Teknik ini mungkin belum pernah dan dipergunakan pada teknik pembuatan perahu di nusantara. Tak ada penemuan situs-situs bangkai perahu yang memanfaatkan teknik tersebut. andi nur aminah

——-

Pengantar Para Petualang

Oleh Andi Nur Aminah

Perahu pertama kali dikenal pada masa neolitikum, sekitar 10 ribu tahun silam.

Sejarah munculnya perahu ataupun kapal sejalan dengan petualangan manusia. Fungsi awalnya, mungkin hanya terbatas pada bisa dipakai bergerak di atas air. Penggunaannya terutama untuk berburu dan memancing.

Kemungkinan besar, perahu yang dibuat oleh nenek moyang kita awalnya terbuat dari bambu. Selain bambu, bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan perahu pada masa lampau juga dari batang-batang papyrus, seperti yang digunakan bangsa Mesir Kuno.

Berabad-abad lamanya, kapal yang digunakan manusia untuk mengarungi sungai atau lautan diawali oleh penemuan perahu. Jenis perahu yang paling sederhana adalah rakit lalu ada juga kano. Kian besar kebutuhan daya muatnya, akhirnya dibuatlah perahu atau rakit yang berukuran lebih besar yang dinamakan kapal. Dari bambu dan kayu, perkembangan kapal terus meningkat sehingga mulai menggunakan bahan-bahan logam seperti baja. Ini karena manusia kian membutuhkan kapal-kapal yang kuat dengan beban muatan makin banyak dan berat.

Untuk penggerak, awalnya hanya menggunakan dayung yang dibuat dari kayu atau tiang bambu yang menyerupai tombak. Lalu, terus berkembang menggunakan angin dengan bantuan layar. Setelah muncul revolusi industri, kapal-kapal mulai menggunakan mesin uap, juga mesin diesel sebagai penggeraknya.

Di Indonesia, menurut arkeolog Universitas Indonesia, Djulianto Susantio, kemungkinan besar perahu buatan nenek moyang kita terbuat dari bambu. Tanaman bambu sangat mudah diperoleh karena bisa tumbuh, baik di daerah sejuk maupun yang berudara panas. Perahu dari bambu ini dikenal dengan nama rakit. Pembuatannya sederhana, cukup menyatukan bilah-bilah bambu menjadi satu dengan mengikatnya dengan tali rotan atau dari ijuk. Rakit tanpa kemudi dan layar ini hanya efektif dipakai pada jalur pendek, seperti menyeberangi sungai.

Jika tak ada bambu, orang-orang dahulu juga menggunakan beberapa batang pohon pisang yang digabung menjadi satu. Bambu dan batang pisang adalah bahan ringan dan mudah mengambang di air. Rakit dari kedua bahan itu, sampai saat ini, masih digunakan penduduk di daerah pedalaman yang wilayahnya masih terisolasi jalan darat.

Namun, sesuai kondisi geografis, di beberapa tempat, kata Djulianto, perahu paling awal diduga terbuat dari sebatang pohon besar yang bagian tengahnya dilubangi. Mirip lesung atau sampan. “Perahu seperti inilah yang paling populer sebagaimana terlihat pada lukisan-lukisan gua prasejarah, yang bisa ditemukan di Sulawesi atau Papua,” ujarnya.

Sejak dahulu, perahu yang lebih bagus telah digunakan oleh nenek moyang kita terbukti dari adanya sejumlah relief di Candi Borobudur, yang memperlihatkan orang sedang naik perahu. Adanya relief tersebut menunjukkan orang-orang di nusantara telah menggunakan perahu untuk mengarungi samudera sejak dahulu.

Sehingga bisa ditafsirkan, sebelum abad ke-9, nenek moyang kita sudah mengenal sedikitnya tiga jenis perahu, yakni perahu lesung, perahu besar yang tidak bercadik, dan perahu bercadik. Menurutnya, perahu tertua dan perlengkapannya pernah ditemukan di situs kerajaan Sriwijaya pada abad VII-XIV. Itulah perahu kayu yang dianggap tertua hingga kini.

Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki beragam jenis perahu yang disesuaikan bentuknya dengan tradisi lokal suku dan kebudayaan yang ada. Beberapa jenis perahu yang dikenal di Indonesia umumnya populer di daerah pesisir pantai.

Bentuknya, ada yang mirip-mirip, namun sebutannya saja yang berbeda di setiap daerah. Antara lain, sampan, biduk, bidar, kora-kora, klotok, ketingting, pancalang, lancang, kalulus, bahtera, tongkang, janggolan, jung, palari, sandek, paduakang, orembai, rorehe, sope, balasoe, eretan, kano, dan sekoci.

Perahu-perahu itu ada yang polos, ada pula yang berwarna-warni dipenuhi hiasan atau ukiran. Fungsinya pun bermacam-macam. Misalnya, untuk membawa hasil tangkapan ikan, membawa barang dagangan, untuk olahraga, kebutuhan transportasi, pesiar, menjaga keamanan, dan berperang.

Beragam jenis perahu tradisional tersebut, ada yang sudah tidak dipergunakan lagi. Keberadaannya tergantikan oleh perahu-perahu yang menggunakan motor atau mesin, ataupun lantaran sarana transportasi darat lebih mendominasi. Beberapa di antaranya, hingga kini, miniaturnya masih bisa dilihat di Museum Bahari Indonesia.

*******


Mantan Wartawan Pimpin Ekspedisi Sabang-Merauke

Jurnas.com, Rabu, 13 April 2011 – POTENSI Indonesia sebagai negara maritim telah diketahui masyarakat dunia sejak berabad-abad lalu. Namun sayangnya potensi tersebut belum seluruhnya tergali dan termanfaatkan oleh masyarakat Tanah Air sendiri.

Untuk itu sebuah Tim Ekspedisi bernama Layar Sabang-Merauke berencana melakukan ekspedisi laut ke wilayah Sabang dan Merauke guna mengenalkan potensi bahari dan membentuk kader anak bangsa tangguh dalam bidang maritim.

“Ekspedisi ini inisiatif sendiri untuk menstransfer ilmu pengetahuan tentang kelautan kepada generasi muda dan anak bangsa lainya,” ujar Pemimpin Tim Ekspedisi Effendi Soleman di sela syukuran dan selamatan guna menyukseskan ekspedisi di Gelanggang Olahraga Air Bahtera Jaya, Ancol Timur, Jakarta Utara, Rabu (13/4).

Effendi menjelaskan, ekspedisi menggunakan perahu Katir Nusantara 2 itu akan berlangsung selama tiga bulan dengan rute Jakarta,Sabang dan Merauke. “Rencananya berangkat tanggal 23 April nanti. Selain saya akan ada 4 orang berlatar belakang pecinta alam yang akan ikut ekspedisi ini,” katanya.

Mantan wartawan yang dikenal sebagai petualang ini berharap ekspedisi untuk kesekian kalinya ini mampu melahirkan figur serupa dirinya di masa datang yang peduli akan dunia bahari Indonesia. Kepala Dinas Potensi Maritim TNI Angkatan Laut (AL) Laksmana Pertama Kingkin Suroso berharap ekspedisi ini mampu menularkan semangat ekspedisi dan semangat bahari ke putra-putri bangsa lainya.

“Effendi mewakili semangat bahari bangsa kita, mudah-mudahan akan melahirkan kepedulian bahari bagi putra-putri bangsa lainya,” katanya.

Penulis: Aria Triyudha

*******

Effendi Soleman, Bulan Depan Keliling Nusantara dengan Kapal Rancangan Sendiri

Effendi Soleman, Targetkan Tiga Bulan Lewati 26 Kota dan 19 Provinsi

Berbekal pengalaman pernah berkeliling dunia, Effendi Soleman bulan depan berkeliling Nusantara. Dia akan menggunakan kapal rancangan sendiri. Ketika merancang, dia tak menggunakan rumus-rumus perkapalan yang njelimet. Untuk alat ukur pun, dia memakai barang seadanya. Tutup panci pun jadi.

MEJA kerja di rumah Soleman terlihat berantakan. Selain dipenuhi kertas berisi coretan, di sudut meja itu terdapat sebuah replika kapal dari kertas karton putih. ’’Ini replika kapal yang hendak saya pakai nanti. Saya yang merancang sendiri,’’ kata Soleman bangga saat ditemui INDOPOS di rumahnya kemarin (3/3). Tak lama setelah menunjukkan replika kapal dari kertas karton itu, dia tampak sedang mencari sesuatu di antara kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjanya.

Dia pun tersenyum saat menemukan barang yang dicari. ’’Nah ini dia. Sebelum membuat ini (replika), saya gambar dulu di sini,’’ ujar pria 59 tahun tersebut lantas menunjukkan sebuah kertas gambar berukuran A3. Di kertas itu, tergambar jelas sebuah kapal bercadik dari beberapa sudut pandang. Ada yang tampak samping, ada juga yang tampak atas. Namun, di gambar itu tidak ada angkaangka njelimet disertai rumus-rumus matematika atau fisika yang khas digunakan para perancang kapal profesioal sebelum membuat sebuah kapal. Soleman hanya menuliskan ukuran panjang dan lebar badan kapal itu. ’’Ah nggak ada itung-itungan-nya. Ini semua berdasar feeling dan pengalaman saya menjadi petualang bahari.

Dulu, orang kali pertama membuat kapal juga nggak ada rumusnya,’’ ucapnya lantas tertawa lebar. Bahkan, pria kelahiran Jakarta, 23 April 1951, itu mengaku menggambar rancangan kapal tersebut dengan alat seadanya. Untuk badan layar yang melengkung, Soleman menggambarnya dengan bantuan tutup panci. Bukan hanya itu, tutup toples, kaleng semir sepatu, dan barang-barang rongsokan lainnya tak luput digunakan untuk menggambar. ’’Apa pun yang melengkung saya jadikan penggaris. Yang penting cocok,’’ ujarnya lalu ngakak. Meski tak disertai hitung-hitungan rumus yang rumit, Soleman tak mau disebut asal dalam merancang kapal Ketika Jawa Pos bertanya seputar bentuk kapal, dia bisa menerangkan dengan meyakinkan.

Meski semua jawaban yang diberikan hanya berdasar pengalamannya beberapa kali berlayar seorang diri ke beberapa pulau dan negara. Soleman juga menerangkan alasan kapalnya terdiri atas sekat-sekat ruang. Yakni, jika salah satu bagian pecah, kapal tidak langsung tenggelam. Namun, kapal masih bisa bertahan lantaran ada rongga yang lain. Tentang keselamatan, dia juga benarbenar memikirkan dan menuangkannya dalam rancangan kapal. Jadi, Soleman sebisa mungkin membuat kapal yang benarbenar aman meski tidak ada hitungan ilmiahnya sama sekali. ’’Kapal ini saya beri nama Katir Nusantara 02,’’ ucapnya. Dia menceritakan, pembuatan kapal tersebut di Bogor kini hampir kelar. Kapal yang diperkirakan menghabiskan biaya Rp 335 juta itu nanti digunakan Soleman untuk berkeliling Indonesia dalam kegiatan yang disebut Ekspedisi Bahari Nusantara 2011.

Dia menargetkan, Ekspedisi Bahari Nusantara 2011 dilaksanakan awal April mendatang. Dia pun berharap dalam waktu dekat kapalnya yang terbuat dari fiberglass itu bisa diuji coba di Ancol. Lebih lanjut dia menerangkan, ekspedisinya kali ini akan memakan waktu tiga bulan. Dia lalu memperlihatkan proposal kegiatan yang telah dibuat. Dalam proposal itu, tercatat bahwa perjalanan Soleman akan menempuh jarak 6.710 mil dan singgah di 26 kota serta 19 provinsi. ’’Pokoknya, rute besarnya Jakarta, Sabang, Makassar, Ambon, Merauke, Wakatobi, Denpasar, hingga Jakarta,’’ jelas alumnus SMAN 10 Jakarta itu. Waktu yang dibutuhkan adalah 63 hari di laut serta 101 hari di darat. Jadi, nanti Soleman melayarkan kapalnya yang kemudian singgah dari satu kota ke kota lain. Tapi, dia tidak sendiri. Dia akan didampingi beberapa pemuda daerah setempat. Pemuda yang jumlahnya tidak lebih dari lima orang itu akan diturunkan ke kota tujuan selanjutnya dan diganti pemuda di kota yang baru disinggahi. Begitu seterusnya. Menurut Soleman, pemuda yang akan diajak adalah anggota pramuka dan mahasiswa pencinta alam. Namun, bukan sembarangan pemuda boleh menumpang di Katir Nusantara 02.

Sebab, panitia Bahari Nusantara 2011 akan menyeleksi pemudapemuda yang berminat di setiap kota. Syarat umumnya, peserta tidak boleh berusia lebih dari 30 tahun dan berat badannya tidak boleh melebihi 60 kg. Soleman mengatakan, salah satu tujuan ekspedisi ini adalah memopulerkan petualangan bahari di kalangan anak muda. Karena itu, dia memilih pemuda sebagai peserta dalam kegiatan tersebut. Menurut dia, kini minat para pemuda di bidang petualangan bahari sangat kurang. Suami Gustia Ningsih itu memang bukan orang baru di dunia bahari. Dia sangat dikenal sebagai pelayar tunggal. Pada 1988, dengan kapalnya yang diberi nama Cadik Nusantara, seorang diri Soleman mengarungi samudra dari Jakarta–Brunei–Jakarta. Setahun kemudian dia kembali melakukan ekspedisi Jakarta–Penang, Malaysia. Pada tahun yang sama, dia juga mengikuti lomba layar Ambon–Darwin, Australia. Dengan prestasi yang telah diraihnya itu, Soleman mendapat penghargaan Pelayar Lepas Pantai Tunggal Pertama Indonesia dari Persatuan Olahraga Layar Indonesia (Porlasi) dan penghargaan Pemuda Pelopor Bidang Bahari Tingkat Nasional dari Presiden Soeharto. Terakir pada 2005, Soleman menjalankan ekspedisi. Namun, saat itu kapalnya rusak parah lantaran terkena ombak saat mengarungi perairan di Aceh.

Soleman ternyata tidak menyerah. Setelah sekian lama tidak mengarungi samudra, dia merasa ’’gatal’’. Diam-diam pria yang saat ini bekerja di salah satu pabrik pembuatan kapal itu kembali menyusun rencana untuk kembali berekspedisi. Sejak setahun lalu dia kembali mengumpulkan teman-teman lamanya. Tentu saja, tujuannya membahas keinginannya yang tak terbendung untuk mengarungi samudra. Bak gayung bersambut, teman-teman Soleman yang kebanyakan merupakan para senior organisasi petualang alam dan para mahasiswa pecinta alam di beberapa universitas, seperti Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti Jakarta, itu langsung mendukung. Bahkan, dalam waktu beberapa bulan, mereka bisa mengumpulkan dana dari beberapa sponsor pendukung untuk membiayai ekspedisi ini yang diperkirakan akan menghabiskan biaya Rp 2,3 miliar. ’’Biayanya memang besar.

Selain untuk peralatan, banyak yang digunakan untuk merekrut peserta di daerah-daerah,’’ ucapnya. Keinginan Soleman ternyata juga didukung penuh oleh perusahaan tempat dia bekerja. Bahkan, Ruby Tirsana, bos besar Soleman, menyumbang sepenuhnya biaya pembuatan kapal. ’’Yang lain tim saya mencari dana sendiri,’’ katanya, lantas terkekeh. Namun, dana sebesar itu bukanlah halangan yang berarti. Dia sangat yakin bahwa ekspedisinya akan berjalan lancar. Selain sangat yakin dengan kekuatan kapalnya yang berukuran panjang 8,5 meter dan lebar 6 meter itu, dia yakin bahwa semua tim panita akan bekerja dengan baik. ’’Saya ingin (ekspedisi) ini menjadi kado ulang tahun saya yang ke-60. Pokoknya saya ingin mencari Soleman-Soleman yang lain,’’ ujarnya.

Di akhir perbincangan, Soleman beranjak dari tempat duduk dan mengambil sebuah kalender Bali dari tembok ruang kerjanya. Dia lalu menunjuk angka 23 April 2011 yang merupakan hari ulang tahunnya. ’’Coba apa artinya (23 April) menurut kalender Bali? Ini adalah hari Saraswati. Yaitu, hari turunnya ilmu pengetahuan,’’ terangnya sambil menunjukkan keterangan yang ada di bawah angka. ’’Saya ingin pada hari ulang tahun nanti saya menurunkan ilmu dan pengalaman saya,’’ imbuhnya. (c5/c4/kum)

[sumber: indopos.co.id]


Berperahu Cadik, Effendy Soleman Arungi Laut Nusantara & Wariskan Ilmu

detiknews.com, Jumat, 06/01/2012 – Spirit lagu ‘Nenek Moyangku Orang Pelaut’ seperti merasuk dalam jiwa Effendy Soleman (60), seorang pecinta alam dan petualang tulen. Laut dipilihnya menjadi wahana petualangan menaklukkan gelombang. Effendy yang terbiasa berekspedisi seorang diri, kali ini mengajak anak-anak muda untuk mewariskan ilmu mengarungi dan mencintai lautan di negara maritim ini.

Sahabat Effendy, Syamsirwan Ichien mengisahkan ekspedisi Effendy dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (6/12/2012) . Kali ini, untuk kesekian kali Effendy mengadakan ekspedisi yang bertajuk ‘Ekspedisi Bahari Nusantara 2011. Jakarta-Sabang-Merauke-Jakarta’.

“Startnya dari Jakarta pada 29 Mei 2011 lalu,” jelas Ichien, yang juga bertanggung jawab atas tim darat Ekspedisi.

Riwayat petualangan Effendy tak main-main. Effendy gemar berpetualangan seorang diri dengan kapal bercadik. Sekitar tahun 1980-an hingga tahun 1990-an, Ichien mengisahkan, Effendy pernah berperahu cadik dengan kapal Cadik Nusantara melakukan petualangan dari Jakarta-Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Kemudian dengan Cadik Nusantara II, Effendy berlayar seorang diri ke Penang, Malaysia.

Pernah juga Effendy membuat ekspedisi bersama 7 perempuan pencinta alam, dari Jakarta ke Pulau Bangka. Dan terakhir, Effendy melakukan ekspedisi, lagi-lagi seorang diri, ke Aceh, setahun setelah peristiwa tsunami Aceh, pada tahun 2005.

“Sekarang kapal ‘Cadik Nusantara II’ sudah terpajang di Musium Bahari,” jelas Ichien.

Karena riwayat petualangannya inilah PT Carita Boat merekrut Effendy, yang sebelumnya sudah malang melintang 26 tahun menjadi wartawan di Sinar Harapan dan Tabloid Mutiara, sebagai quality controller kapal. Dan pada tahun 2011 kemarin, PT Carita Boat membuat kapal fiber untuk Effendy yang akan kembali menjelajah laut Nusantara kembali.

Spesifikasinya, panjang 8,9 meter, dan lebar 1,5 meter. Karena bercadik dua, maka lebarnya menjadi 6 meter. Nama kapalnya ‘Katir Nusantara II’, katir yang juga berarti cadik. Mesinnya ada 2, sumbangan dari Suzuki, berkekuatan masing-masing 15 Power Kuda (PK). Kedua mesin itu, hanya untuk membantu kapal keluar-masuk dermaga saja, selebihnya, kapal bercadik itu menggantungkan diri pada tenaga angin pada layar setinggi 12 meter dan kecerdikan sang nakhoda. Total harga kapalnya, Rp 300 juta.

Ada yang berbeda dari ekspedisi Effendy kali ini. “Kali ini dia ditemani, dan ekspedisi kali ini lebih ke transfer ilmu kepada generasi penerusnya. Ini ekspedisi terakhir mengingat usianya, jadi dia ingin membagikan ilmunya,” jelas Ichien.

Maka, pemuda-pemuda pencinta alam dari beberapa perguruan tinggi pun menyertainya. Mulai dari mahasiswa pencinta alam dari Universitas Sriwijaya-Palembang, Universitas Indonesia (UI), Universitas Syiah Kuala-Banda Aceh hingga Pramuka Saka Bahari.

Pemuda-pemuda itu naik berganti-gantian menemani Effendy. Kapal bercadik ini muat 2-5 orang. Bisa muat sampai 5 orang jika berat badan rata-ratanya 60 kg, jika lebih paling mentok sampai 3 orang saja.

Untuk bisa naik ke kapal ini, tak hanya butuh fisik yang kuat, utamanya mental dan psikis. Maklum, ini kapal kecil yang mengarungi dan menantang gelombang. Menurut Ichien, banyak yang sedianya berminat ikut ekspedisi Effendy, ciut nyali dan balik kanan ketika melihat kapalnya.

Dari Jakarta pada Mei 2011 lalu, ‘Katir Nusantara 2′ mampir-mampir ke pulau-pulau sepanjang Sumatera, namun pelabuhan besar yang disinggahi seperti Palembang-Sumsel, Belawan-Medan, hingga Banda Aceh. Dari Banda Aceh, kapal ‘Katir Nusantara 2′ menyeberang ke Sabang.

Tak mudah, karena gelombang di sekitar Sabang sedang tinggi. Effendy lantas naik kapal feri untuk mengetahui keadaan ombak ke Sabang, balik lagi ke Aceh. Dari Aceh barulah dia mengarungi laut ke Sabang. Benar saja, kapalnya sempat hampir kandas karena ombak yang tinggi, tapi keahlian Effendy akhirnya kapal itu bisa selamat dari gempuran ombak.

Selain ombak, ada lagi ancaman kaum lanun alias bajak laut yang bertebaran di Selat Malaka. Untuk yang satu ini, Effendy memiliki cara sendiri. Bila didekati kapal yang mencurigakan dan tidak jelas, Effendy akan semakin mendekatkan kapalnya.

“Kita pencinta alam sudah menghadapi berbagai macam orang. Kalau ada kapal yang mencurigakan, dia mendekati kita makin mendekati. Kita lemparkan senyum, lemparkan kardus biskuit yang ada gambar TNI AL. Itu bukan biskuit biasa, makan satu saja bisa kenyang seharian. Lagian sejahat-jahatnya orang kalau dibaikin masa nggak baik juga?” jelas Ichien.

Ya, ekspedisi kapal ‘Katir Nusantara2′ ini juga didukung oleh TNI AL. TNI AL membantu dalam hal mengizinkan kapal ‘Katir Nusantara 2′ untuk bersandar di Pos AL atau Lantamal. Kemudian, biasanya, dari Pos AL dan Lantamal itu ada sedikit logistik dan makanan yang diberikan. Selain makanan, Pos AL dan Lantamal bisa memberikan sedikit bahan bakar untuk kapal. Effendy juga bisa menghubungi TNI AL bila terjadi sesuatu dengan kapalnya.

Dari Sabang, ‘Katir Nusantara 2′ kemudian ke Muntok, Bangka. Di sini, ‘Katir Nusantara 2′ dirawat oleh para nelayan lokal kenalan Effendy. Kemudian pada 10 Januari 2012, ‘Katir Nusantara 2′ akan berlayar ke Tanjung Pandan, Belitung.

“Dari situ kemudian akan dimulai petualangan sesungguhnya mencapai Merauke. Kalau tidak ada aral melintang, paling 2 bulan sampai,” jelas Ichien.

Rute yang akan ditempuh, dari Tanjung Pandan-Belitung, kapal akan menuju ke muara sungai, Pelabuhan Kumai-Kalimantan Tengah kemudian ke Banjarmasin-Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, menyeberang ke Makassar-Sulawesi Selatan, Kendari-Sulawesi Tenggara, Ambon, Fakfak-Papua Barat, hingga Timika dan berakhir di Merauke.

“Kali ini karena dalam rangka regenerasi Effendy akan sering bersandar. Kalau dulu sendirian, Effendy bisa 4 hari melaut sebelum sandar. Sekarang mungkin bisa 4 atau 5 jam sandar,” jelas Ichien, alumni Mapala UI yang kini berprofesi sebagai freelance fotografer dan videografer ini.

(nwk/asy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: